ESAI;PERTANIAN MASUK PERGURUAN TINGGI

 

PERTANIAN MASUK PERGURUAN TINGGI

Sahidunzuhri (14810134027)

 

Hari Kebangkitan Nasional yang ke 107 tahun dimeriahkan dengan kekecewaan publik. Pelbagai persoalan birokrasi mengenai politik, ekonomi, pertanian maupun bidang pendidikan. Sumber masalahnya tentu dari banyak sisi. Tetapi, salah satu persoalan terpenting adalah swasembada pangan.

Pemuda seharusnya menjadikan kebangkitan nasional sebagai momentum introspeksi diri. Sebagai mahasiswa agent of change dalam mengisi kebangkitan nasional, penulis memiliki tanggung jawab menciptakan solusi untuk memperbaiki ketahanan pangan dalam negeri. Hal ini sebagai langkah nyata keikutsertaan pemuda di tengah ASEAN Economonic Community (AEC) 2015.

Pengoptimalan mahasiswa sebagai agent of change dilakukan dengan kontribusi nyata dalam berinovasi mutu berbasis pemuda untuk ketahanan pangan Indonesia dan ASEAN, pada umumnya. Pemuda dan pemerintah harus bekerja sama dalam menjalankan inovasi mutu berbasis pemuda tersebut. Inovasi mutu berbasis pemuda yang harus segera direalisasikan ialah menanamkan rasa cinta pertanian kepada mahasiswa, pemberdayaan komunitas mahasiswa bertani dan modernisasi mahasiswa.

Mahasiswa Harus Mencintai Pertanian

Langkah pertama yang paling efektif untuk mengatasinya adalah mahasiswa harus mulai mencintai pertanian. Agar tercapai, maka pemerintah sudah seharusnya memasukkan pelajaran pendidikan pertanian di kurikulum perguruan tinggi sebagai mata kuliah dasar yang wajib ditempuh semua mahasiswa tanpa membedakan jurusan. Dengan masuknya mata kuliah pendidikan pertanian di perguruan tinggi secara nasional, penulis yakin akan semakin banyak generasi muda yang tertarik dengan dunia pertanian. Karena selain sektor pertanian adalah jantung perekonomian nasional berada, sektor pertanian juga berkaitan langsung dengan ketahanan pangan dan menyerap tenaga kerja paling banyak. Sehingga hitam-putih perekonomian nasional ada di sektor ini. Jika daya saing sektor ini rendah, pasar domestik akan terus dibanjiri produk impor.

Untuk bisa memenangi persaingan AEC, sektor pertanian harus segera dibenahi. Bila pemerintah, pengusaha dan para mahasiswa bersatu dalam berpartisipasi di ekonomi ASEAN, niscaya kita akan tampil sebagai pemenang. Kita harus optimistis bahwa Masyarakat Ekonomi Asean adalah sebuah peluang emas, bukan ancaman yang perlu ditakuti.

Mahasiswa Wajib Berdayakan “Komunitas Mahasiswa Bertani“

Langkah kedua yang paling efektif untuk mengatasinya adalah mahasiswa harus mulai memberdayakan komunitas mahasiswa bertani di lingkungan perguruan tinggi. Komunitas mahasiswa bertani ini hanya dilakukan dalam skala universitas dengan tujuan untuk memakmurkan pertanian di daerahnya. Komunitas ini sendiri akan terbagi menjadi beberapa bidang sesuai kebutuhan yang diperlukan untuk mencapai ketahanan pangan Indonesia dan ASEAN, pada umumnya yang meliputi:

  • Komunitas Mahasiswa Bertani Bidang Tanah dan Air.

Komunitas ini dibentuk perguruan tinggi untuk membantu para petani dalam hal-hal yang berhubungan dengan lahan dan air. Komunitas ini diharapkan mampu mencegah terjadinya ketidakadilan agraria. Seperti yang kita ketahui di Kalimatan dan Papua, ratusan ribu hektar tanah dikuasai oleh pemodal. Sebagai contoh penerapan di Yogyakarta itu sendiri komunitas ini sangat relevan jika dibentuk di Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN).

  • Komunitas Mahasiswa Bertani Bidang Pupuk

Komunitas ini dibentuk perguruan tinggi untuk memberikan pelatihan kepada para petani mengenai pentingnya menciptakan pupuk secara mandiri. Caranya memberikan pendidikan pertanian mandiri dengan memanfaatkan pupuk organik yang ramah lingkungan kepada para petani di daerahnya. Dengan adanya komuntas ini diharapkan permasalahan mengenai pupuk bersubsidi bisa teratasi. Sebagai contoh penerapan di Yogyakarta itu sendiri komunitas ini sangat relevan jika dibentuk di Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Yogyakarta (STPP) atau Institut Pertanian Stiper Yogyakarta.

  • Komunitas Mahasiswa Bertani Bidang Teknologi

Komunitas ini dibentuk perguruan tinggi untuk menciptakan benih-benih lokal yang berkualitas. Dalam komunitas inilah peran perguruan tinggi sangat diutamakan. Dengan adanya komunitas bertani perguruan tinggi, diharapkan memberikan kemudahan para petani dalam mendapatkan benih berkualitas dengan harga yang terjangkau. Sebagai contoh penerapan di Yogyakarta itu sendiri komunitas ini sangat relevan jika dibentuk di Universitas Gadjahmada mengingat selain sebagai universitas terbaik tingkat nasional, UGM sangat mampu untuk menjadi pusat komunitas bertani bidang teknologi karena teknologinya telah mendukung.

  • Komunitas Mahasiswa Bertani Bidang Permodalan

Komunitas ini dibentuk perguruan tinggi untuk memberikan kemudahan di bidang pendanaan. Dalam hal ini perguruan tinggi harus membentuk bank pertanian baik secara mandiri maupun yang bekerja sama dengan bank pemerintah. Bank pertanian ini dulu sukses dilakukan pada pemerintahan Presiden Soeharto atas kerja sama dengan bank BRI. Sebagai contoh penerapan di Yogyakarta itu sendiri komunitas ini sangat relevan jika dibentuk di Universitas Negeri Yogyakarta. Karena fasilitas perbankan itu sudah tersedia di FE UNY dan siap digunakan setelah diresmikan oleh Wakil Dekan I FE UNY, Prof. Dr. Moerdiyanto, M.Pd.,M.M. pada Rabu (19/2/2014).

  • Komunitas Mahasiswa Bertani Bidang Pemasaran

Komunitas ini dibentuk perguruan tinggi untuk memberikan pemahaman bagi para petani yang mana biasanya mereka hanya memposisikan pertanian sebagai mata pencaharian dan suatu cara kehidupan, bukan suatu kegiatan usaha untuk mencari keuntungan (bisnis). Apabila mereka sudah paham bagaimana pentingnya pertanian sebagai lahan bisnis, maka akan tumbuh motivasi yang besar untuk terus meningkatkan kinerja mereka dalam mengoptimalkan laba. Sebagai contoh penerapan di Yogyakarta itu sendiri komunitas ini sangat relevan jika dibentuk di Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen (STIM) atau UPN Yogyakarta.

Mahasiswa Harus Modern

Langkah terakhir yang paling efektif untuk mengatasinya adalah mahasiswa harus berpikir modern secara universal. Artinya, mahasiswa tidak hanya fokus terhadap perkembangan teknologi pertanian saja namun juga termasuk sikap dan perilaku. Mahasiswa harus ikut berjuang dan berpartisipasi dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN. Kediktatoran penguasa dan penyelewengan-penyelewengan salah satu musuh mahasiswa yang harus segera diselesaikan. Bila dirasa penguasa melakukan tindakan investasi yang justru hanya menguntungkan pihak asing dan melanggar ketentuan yang ada, maka mahasiswa harus ikut serta memperbaikinya.

Mahasiswa juga dituntut tanggap terhadap perubahan karena sebagai agent of change (agen perubahan), mentalitas bangsa berada di tangan mahasiswa dimana mahasiswa sebagai golongan terpelajar pendorong terwujudnya peningkatan kualitas bangsa yang lebih baik. Seandainya mahasiswanya kurang tanggap oleh suatu hal, mahasiswa akan tergerus oleh zaman dan dibodohi oleh kalangan elit saja.

Pada akhirnya penulis hanya bisa berharap semoga inovasi mutu berbasis pemuda yang mendukung kedaulatan pangan tersebut bisa dipertimbangkan pemerintah untuk segera direalisasikan. Solusi di atas hanyalah sumbangan kecil dari penulis sebagai mahasiswa untuk memajukan bangsa ini dimana mahasiswa sebagai agent of change dalam mengisi kebangkitan nasional.

*) 20 Besar Lomba Menulis Essay Mahasiswa se-DIY 2015

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BIOGRAFI PENULIS

SAHIDUNZUHRI adalah mahasiswa Bidikmisi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta (2014). Karyanya sudah tersebar di media-media lokal dan nasional, seperti majalah MOP, Majalah Story dan Harian Jogja. Selain menulis cerita pendek, anak muda penyuka warna biru ini juga menulis puisi, fiksi mini, essai dan artikel.

 

BIODATA PENULIS

Nim                             : 14810134027

Nama                           : Sahidunzuhri

Universitas                  : Universitas Negeri Yogyakarta

Fakultas/Prog. Studi   : Fakultas Ekonomi/Manajemen Pemasaran

Alamat                                    : UNY Kampus Wates Jl. Mandung No.1 Kulonprogo

Nomor telepon            : 083869884860

Masih Ada Langit Biru (Kisah Mendapatakan Beasiswa Bidikmisi)

Kisah perjalanan ini saya ikutkan pada “Lomba Menulis Kisah Inspiratif Tingkat Nasional Kamakarya UGM 2015” Meskipun tidak masuk ke dalam 20 besar, saya berharap semoga kisah perjalanan saya ini bisa menginspirasi.

Masih Ada Langit Biru

Foto Identitas

Aku adalah anak seorang buruh tani yang penghasilannya serba terbatas. Bapakku tidak tamat Sekolah Rakyat. Sementara nasib ibuku lebih menyedihkan karena sama sekali tidak mengenyam bangku pendidikan. Namun mereka adalah pejuang-pejuang hebat yang mengajariku cara bermimpi. Meskipun pada akhirnya aku harus jatuh berkali-kali terlebih dahulu. Kisah ini dimulai di tahun 2007, saat aku meminta izin kepada Bapak untuk melanjutkan sekolah. Waktu itu Bapak tidak punya cukup uang untuk membiayai kelanjutan studiku di jenjang sekolah menengah atas. Tubuhku mendadak gemetar. Baru kali itu aku melihat Bapak dan Ibu tak bisa berkata-kata, kecuali air mata yang perlahan menghangat melumeri pipi keriputnya.

“Bapak janji akan berusaha mengumpulkan uang. Untuk sementara waktu kamu bekerja dulu setahun. Percayalah, Ngger. Sesudah hujan pasti masih ada langit biru” kata Bapak pada akhirnya. Sementara Ibu bergegas lari menuju kamar dengan pintu tertutup. Dan aku tahu apa yang Ibu lakukan di dalam sana. Sungguh aku benar-benar tidak bermaksud melukai perasaannya. Bapak lalu memelukku. Aku merasakan derap jantung Bapak yang menggemuruh. Entah perasaan apa yang dia rasakan. Yang jelas rasa penyesalanku bertambah besar. Karena mimpi besarku untuk melanjutkan sekolah begitu tinggi, aku pun akhirnya memutuskan untuk pergi bekerja ke Jakarta.

Tahun 2008. Allah melancarkan segala prosesnya. Masa SMA aku habiskan untuk mengasah bakat menulisku. Beberapa cerita pendekku mulai terbit di Majalah Mop dan Majalah Story di Jakarta. Kegagalan waktu itu sudah Bapak antisipasi dengan mengumpulkan uang untuk biaya studiku di jenjang perguruan tinggi. Namun Allah punya rencana lain. Bapak mengalami kelumpuhan selama hampir tiga tahun karena jatuh dari pohon kelapa saat mengunduh air nira. Bapak sempat depresi dan menolak di bawa ke rumah sakit gara-gara uang tabungan itu sudah Bapak janjikan untuk biaya kuliahku. Di saat keadaan Bapak sakit begitu parah, Bapak masih mementingkan mimpiku untuk kuliah menjadi Sarjana.

*

November 2013.

“Ngger, apa kamu masih menyimpan mimpimu?” tanya Bapak suatu kali saat aku pulang ke Magelang. Semenjak lulus SMA aku memutuskan untuk bekerja di Yogyakarta. Aku menjadi tulang punggung menggantikan Bapak. Jantungku seperti berhenti seketika waktu Bapak menanyakan hal itu. Bahkan aku sudah mengubur dalam-dalam keinginanku untuk menjadi Sarjana. Kalau aku kuliah, siapa yang akan mencari uang? Abangku yang hanya lulusan Sekolah Dasar tidak bisa diandalkan karena kerjanya sebagai buruh serabutan yang tidak menetap.

“Bapak serius, Ngger” Bapak menekankan ucapannya karena aku belum memberikan reaksi atas pertanyaannya. Tiba-tiba Bapak berdiri dan berjalan ke arahku. Beliau meraih pundakku, lalu memelukku. Aku menangis haru mendapati Bapak sudah bisa berjalan. Lalu Ibu yang sedang menyiapkan makanan di ruang tengah menceritakan perihal Bapak bisa jalan kembali sekitar sebulan yang lalu.

“Biarpun kita sering jatuh karena mimpi, namun kita masih punya kaki untuk berdiri lagi dan berlari” ucapnya pelan, namun mampu menghujam dadaku. Saat itulah mimpi-mimpi yang telah lama tertidur bangkit lagi.

“Tapi semua sudah berubah, Pak. Aku tidak bisa menjadi guru seperti yang Bapak idam-idamkan dari dulu. Aku…” Aku tak sanggup melanjutkan kata-kataku yang tentu akan menyakiti hati Bapak. Bukankah dari dulu Bapak sangat ingin jika aku jadi seorang guru? Kini situasinya sudah berubah sejak aku bekerja di dunia retail. Mimpiku ingin menjadi wirausahawan, tak lagi menjadi seorang guru!

“Bapak selalu mendukung mimpi-mimpimu, Ngger. Apapun itu! Uang-uangmu yang dulu dikirim, sebagian Bapak tabungkan. Semoga bisa menambah biaya kuliahmu nanti” Aku hampir tidak percaya dengan ucapannya. Bapak mengecup keningku sebelum akhirnya melepaskan pelukannya.

*

Sore itu aku di telepon oleh Ibu Widyastuti dari FBS UNY. Beliau sedang melakukan visitasi mahasiswa UNY untuk UKT golongan satu di rumahku. Sementara

itu aku masih bekerja di Yogyakarta. Tak banyak yang kami bicarakan di dalam telepon. Waktu itu Ibu Widyastuti hanya bertanya-tanya mengenai kepribadianku, pekerjaanku, dan motivasi terbesarku untuk kuliah. Di akhir percakapan beliau meyakinkan aku untuk mengajukan beasiswa Bidikmisi jalur Seleksi Mandiri. Beliau memberi tahu beberapa persyaratan yang harus segera aku persiapkan. Dengan berbekal piagam juara III LKTI Parade Science se-SMA Kabupaten Magelang, setidaknya ada sedikit harapan dan optimisme. Semangatku kuliah semakin terpompa. Aku merasa bahwa mimpiku sudah di depan mata. Semakin dekat untuk segera aku raih.

*

Aku mengucek-ucek mata tak percaya. Lembaran-lembaran putih pengumuman sangat menyilaukan mata akibat sorotan cahaya matahari. Anis berada di depanku. Meyakinkan kepadaku bahwa namaku ada di deretan terakhir mahasiswa yang dinyatakan lolos beasiswa Bidikmisi. Sebenarnya aku masih belum sepenuhnya percaya. Meskipun dengan sadar aku sudah menemukan ejaan namaku ada di papan itu. Mungkin ada yang salah? Aku pun mengecek sekali lagi barangkali nomor induk mahasiswanya bukan milikku. Namun lagi-lagi aku harus mempercayai bahwa namaku tercatat di sana.

Dulu aku sempat ragu dengan status kelulusanku. Aku lulus SMA tiga tahun yang lalu. Apakah mungkin mendapat beasiswa Bidikmisi? Jawabannya ternyata adalah mungkin. Bidikmisi tidak membeda-bedakan tahun kelulusan. Siapapun mahasiswa miskin yang berprestasi, Bidikmisi siap mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Terima kasih Bidikmisi. Terimakasih Dikti. Terima kasih SBY. Aku tidak akan pergunakan beasiswa ini dengan biasa-biasa saja. Aku akan jadi mahasiswa berkualitas dan siap menjadi generasi emas UNY.

Setelah hujan, pasti masih ada langit biru. Tiba-tiba aku teringat kata-kata Bapak enam tahun yang lalu. Mungkinkah ini yang dimaksud Bapak sebagai langit biru itu? Langit biru yang akan segera menaungi mimpi-mimpi besarku. Aku yakin, esok pagi dan seterusnya cuaca pasti cerah dan langit pasti berwarna biru.

BIOGRAFI PENULIS

  1. ZUHRI. Nama pena dari Sahidunzuhri. Pengarang yang mengawali debutnya di media nasional melalui Story Teenlit Magazine ini, Lahir di Magelang, 10 September 1991. Menulis cerpen, sajak, dan fiksi mini. Cerpennya mulai tersebar di media, lokal dan nasional. Saat ini masih tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta. E-mail: szuhri72@yahoo.co.id

Alamat :Kedungrengit, Tegalarum, Borobudur, Magelang 56553

Hp:083869884860

Berdayakan Komunitas Indonesia Bertani

 Harian Jogja, 31 Maret 2015

Berdayakan Komunitas Indonesia Bertani

HARIAN JOGJA Berdayakan Komunitas Indonesia Bertani

Indonesia sejak dulu dikenal sebagai negara agraris.  Namun ironis, hingga kini Indonesia belum dapat mencapai swasembada pangan.  Indonesia masih mengimpor bahan pangan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Padahal Indonesia memiliki semua persyaratan untuk menjadi sebuah negara agraris yang menjadi lumbung pangan utama dunia. Apa yang salah dari sistem pertanian di Indonesia sehingga masih marak budaya impor? Bahkan dari tahun ke tahun budaya impor terus meningkat. Apa yang harus dilakukan pemerintah agar swasembada pangan tercapai?

Sudah saatnya Indonesia segera mewujudkan kedaulatan pangan dan energi seperti yang menjadi visi misi Presiden Jokowi pada saat pemilu. Sehingga tercipta filter bagi pemerintah dalam melakukan impor pangan. Jangan sampai produk yang bisa dihasilkan di dalam negeri impor dari luar. Karena hal ini akan mengancam keberlangsungan para petani lokal. Sehingga para petani tidak mendapat perlindungan. Kedaulatan pangan itu sendiri akan tercipta jika kedaulatan pangan dimiliki oleh rakyat.

Untuk mencapai kedaulatan pangan rakyat, perubahan kebijakan diperlukan. Pangan dan pertanian ditumpukan pada kemampuan secara mandiri. Pemerintah juga menjamin akses setiap petani atas tanah, air, bibit, teknologi, permodalan, dan pasar. Akan tetapi, penjaminan akses untuk petani tersebut tidak akan terwujud dengan sukses tanpa adanya komunitas Indonesia Bertani. Komunitas bertani ini dapat dilakukan dalam skala desa, kota, dan universitas. Komunitas itu sendiri akan terbagi menjadi beberapa bidang sesuai kebutuhan yang diperlukan untuk mencapai kedaulatan pangan rakyat.

Pertama, komunitas bertani bidang tanah dan air. Komunitas ini dibentuk pemerintah untuk membantu para petani dalam hal-hal yang berhubungan dengan lahan dan air. Komunitas ini diharapkan mampu mencegah terjadinya ketidakadilan agraria. Seperti yang kita ketahui di Kalimatan dan Papua, ratusan ribu hektar tanah dikuasai oleh pemodal. Kedua, komunitas bidang perpupukan. Komunitas ini dibentuk pemerintah untuk memberikan pelatihan kepada para petani mengenai pentingnya mencipatakan pupuk secara mandiri. Caranya memberikan pendidikan pertanian mandiri dengan memanfaatkan pupuk organik yang ramah lingkungan. Dengan adanya komuntas ini diharapkan permasalahan mengenai pupuk bersubsidi bisa teratasi.

Ketiga, komunitas bertani bidang teknologi. Komunitas ini dibentuk pemerintah untuk menciptakan benih-benih lokal yang berkualitas. Dalam komunitas inilah peran perguruan tinggi sangat diutamakan. Dengan adanya kerja sama antara pemerintah dan perguruan tinggi, diharapkan memberikan kemudahan para petani dalam mendapatkan benih berkualitas namun dengan harga yang terjangkau. Keempat, komunitas bertani bidang permodalan. Komunitas ini dibentuk pemerintah untuk memberikan kemudahan di bidang pendanaan. Dalam hal ini pemerintah harus membentuk bank pertanian yang bekerja sama dengan bank pemerintah. Bank pertanian ini dulu sukses dilakukan pada pemerintahaan Presiden Soeharto atas kerja sama dengan bank BRI.

Kelima, komunitas bertani bidang pemasaran. Komunitas ini dibentuk pemerintah untuk memberikan pemahaman bagi para petani yang mana biasanya mereka hanya memposisikan pertanian sebagai mata pencaharian dan suatu cara kehidupan, bukan suatu kegiatan usaha untuk mencari keuntungan. Apabila mereka sudah paham bagaimana pentingnya pertanian sebagai lahan bisnis, maka akan tumbuh motivasi yang besar untuk terus meningkatakan kinerja mereka dalam mengoptimalkan laba.

Dengan adanya komunitas bertani ini, penulis yakin pertanian di Indonesia ini akan berjaya kembali. Sehingga kita dapat mengambil manfaat berguna bagi kehidupan bangsa Indonesia yang sedang menggeliat untuk menoleh kembali pada peradaban pertanian. Peradaban pertanian ini untuk dijadikan dasar pembangunan bangsa dan negara dalam beberapa dasawarsa ke depan. Harapannya, peradaban pertanian yang pernah berjaya di bumi Nusantara berabad-abad lalu akan kembali membesarkan bangsa dan negara ini hingga mampu mencapai kehidupan yang adil, makmur, dan sejahtera, Sahidunzuhri Mahasiswa Bidikmisi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta.

 

BIOGRAFI PENULIS

SAHIDUNZUHRI. Pengarang yang mengawali debutnya di media nasional melalui Story Teenlit Magazine ini, Lahir di Magelang, 10 September. Cerpennya mulai tersebar di media, lokal dan nasional. Beberapa tulisannya berupa artikel juga telah dipublikasikan di Kedaulatan Rakyat dan Harian Jogja. E-mail: szuhri72@yahoo.co.id Nomor Rekening: Mandiri 137-00-1128686-7. Alamat: UNY Kampus Wates Jl. Bhayangkara No 7, Wates, Kulonprogo. Telepon; 083869884860

Jalan untuk Mencapai Kesepakatan Bersama, Harian Jogja Edisi Selasa, 17 Maret 2015

 

Jalan untuk Mencapai Kesepakatan Bersama

Pansus Raperdais urusan Tata Cara Pengisian Jabatan Gubernur Aihdan Wakil Gubernur DIY belum solid mengenai persyaratan calon gubernur dan wakil gubernur. Pansus masih tarik ulur tentang poin pencantuman istri dalam daftar riwayat hidup. Poin yang menjadi perdebatan tentang pencantuman daftar riwayat hidup calon gubernur yang terdapat di Pasal 3 bagian pertama huruf M. Dari tujuh fraksi DPRD DIY, ada dua fraksi yang condong memilih persyaratan di UUK itu dipangkas, terdiri Fraksi PDIP dan Fraksi Partai Gerindra. Di kubu lain, ada empat fraksi yang menghendaki persyaratan harus dikutip utuh sesuai UUK, yaitu Fraksi PKS, Fraksi Partai Golkar, Fraksi PAN, dan Fraksi Persatuan Demokrat (gabungan PPP-Demokrat). Sementara itu fraksi Kebangkitan Nasional (gabungan PKB-Nasdem) belum menyatakan sikap resmi.

Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X sebagai raja Kesultanan Yogyakarta, pada tanggal 6 Maret 2015 pada akhirnya mengeluarkan Sabdatama. Sultan menegaskan bahwa kewenangan keistimewaan DIY termasuk tata cara pengisian jabatan, kedudukan, dan tugas ada pada Raja. Sabdatama itu sendiri merupakan hukum tertinggi di Keraton dan menjadi acuan semua pembahasan, termasuk paugeran Keraton dan peratuaran perundang-undangan. Oleh karena itu seharusnya tujuh fraksi yang ada di DPRD segera bermusyawarah dan bekerjasama. Karena mau tidak mau mereka harus mematuhi kehendak Raja. Sabdatama tersebut seharusnya juga dapat segera menyudahi perdebatan yang terjadi. Baik perdebatan yang terjadi di lingkungan internal Keraton maupun di DPRD DIY.

Untuk mengatasi perdebatan yang terjadi supaya tidak menjadi polemik yang berkepanjangan, ketua Pansus Raperdais harus segera membuat kesepakatan bersama. Untuk mencapai kesepakatan bersama, langkah-langkah yang harus dilakukan oleh ketua Pansus Raperdais adalah: pertama, ketua Pansus harus bermusyawarah lagi dengan ketujuh fraksi DPRD dan meyakinkan kepada para anggota fraksi bahwa Sabdatama Sultan merupakan hukum yang dijadikan patokan mengambil keputusan. Karena tidak seorang pun kecuali sang raja yang bisa memutuskan atau berbicara tentang Keraton Yogyakarta, terutama terkait takhta keraton. Yang bisa memutuskan terkait takhta keraton hanya raja. Sementara DPRD yang membantu segala bentuk keperluan dan keinginan Raja.

Kedua, ketua Pansus Raperdais harus memberi pengertian kepada ketujuh fraksi DPRD bahwa mereka tidak bisa memaksa Sultan dimana yang berhak menjadi pewaris takhta harus laki-laki. Karena pada realitasnya Sultan tidak memiliki seorang putra laki-laki. Ketiga, ketua Pansus Raperdais harus mengingatkan kepada ketujuh fraksi DPRD bahwa yang pantas menjadi pewaris takhta itu bukan terletak pada perbedaan gender melainkan karena kualitas diri seseorang bisa memimpin rakyatnya. Sehingga laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang sama. Terakhir, apabila masalah internal fraksi DPRD sudah dapat diatasi maka ketua Pansus Raperdais harus segera sowan ke Ngarso Dalem untuk berkonsultasi kepada Sultan.

Meskipun masyarakat sudah tahu bahwa Sultan menghendaki kalimat persyaratan itu dipangkas hingga bunyinya cukup menjadi ‘calon gubernur menyerahkan daftar riwayat hidup’ saja—–dengan alasan untuk menghilangkan konotasi bahwa Perdais menggiring persyaratan gubernur harus laki-laki. Sowan ke Ngarso Dalem ini tetap harus dilakukan sebagai konsekuensi pengakuan dan penghormatan kepada Sultan dan keistimewaan DIY. Pada akhirnya ketua Pansus Raperdais DPRD DIY dituntut untuk segera menyelesaikan perdebatan ini. Hal ini tentu perlu dukungan dari semua fraksi yang duduk di kursi DPRD.

Seperti yang kita tahu tugas DPRD adalah menyalurkan aspirasi rakyat. Semua rakyat Yogyakarta juga sudah mempercayakan amanah kepada Sultan selaku Raja. Lalu untuk apa fraksi-fraksi di DPRD masih saja terpecah menjadi dua kubu. Sudah cukup rakyat dipertontonkan kubu-kubu yang melekat di DPR RI. Kami tidak perlu lagi melihat realitas yang sama. Sebagai pengemban tugas rakyat sudah seharusnya DPRD memberikan contoh yang baik. Berikanlah pendidikan politik yang layak bagi negeri ini. Penulis berharap, semoga perebatan-perdebatan ini dapat segera diselesaikan dengan jalan kesepakatan dan musyawarah yang bercirikan khas orang Indonesia. Sahidunzuhri, Mahasiswa Bidikmisi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta.

 

BIOGRAFI PENULIS

SAHIDUNZUHRI. Pengarang yang mengawali debutnya di media nasional melalui Story Teenlit Magazine ini, Lahir di Magelang, 10 September. Cerpennya mulai tersebar di media, lokal dan nasional. Beberapa tulisannya berupa artikel juga telah dipublikasikan di Kedaulatan Rakyat dan Harian Jogja. E-mail: szuhri72@yahoo.co.id Nomor Rekening: Mandiri 137-00-1128686-7. Alamat: UNY Kampus Wates Jl. Bhayangkara No 7, Wates, Kulonprogo. Telepon; 083869884860